Thursday, May 14, 2009

A dead rat who can read

Been watching Arab news TV channels including from Hizbollah and other Islamic groups. One documentary on Israel aggression showed the real situation on the ground.

All our mainstream media, Utusan, Media Prima, The Star, Astro are owned by United Malay National Organisation regime or its allies. We have some good talents but they are under so many restrictions. If we have mainstream media owned by the non-United Malay National Organisation regime and its allies, we may have more balanced reporting and healthy discourses.

However, with the Internet, the government cannot own the whole space...

Speaking to the assembled journalists, Hersh reminded them that no one likes a good reporter, since by definition the good investigative reporters will always be working to embarrass someone. As Hersh graphically put it, "We are like the dead rat that someone brings to the party. No one wants to talk to you". He went on to make clear that no reporter can do his or her job properly unless he or she really understands the subject. His best advice to any reporter was to "read, read, read".

Illustration: Nino Jose Heredia/Gulf News


The printed word still dominates when it comes to news in the Middle East. This week's very busy eighth Arab Media Forum in Dubai made very clear that there are hundreds of committed journalists in the Arab world who want to tell the deeper story of what is really going on in the Middle East, with a passion that is not often obvious from the pages or airwaves.

But with a few outstanding exceptions, many of the region's TV stations and radio channels have failed to invest in recruiting journalists, so these stations are stuck without the ability to develop their own news agenda. They can follow other people's diary events, they can record the daily round of affairs from the government, but their programming cannot reflect what their readers and viewers want to know about.

If a media organisation has a body of reporters, photographers and graphic artists, they have to decide each day what they are going to cover, and they will have the necessary round of daily meetings at which the senior editor will organise the day's news, and give assignments to reporters and others to go and find the stories that the organisation wants. This means that media with reporters can choose to decide to cover what they want: it may be the high cost of housing, or the growing threat of fake car break pads, or whatever else they think people will want to read or hear about, as well as the important diary events.

Of the region's TV stations, Al Jazeera and Al Arabiya, in particular, have a very high standing in the Arab world because they have their own reporters and cameramen. So, for example, when Israel invaded Gaza, they were able to send people to go and cover the event, and produced original content that told the story they wanted to tell.

Too many TV stations, radio channels and websites have not invested in their own reporting staff. Through this failure to invest, far too many media organisations condemn themselves to be mere aggregators, stealing other media organisations' work and rebranding it as their own, or even worse, simply relying on press releases and calling the output a 'news' digest.

The case for essential, healthy reporting was made during the Forum by one of the world's best investigative reporters, Seymour Hersh, who was the reporter who in 1969 first broke the story of the My Lai Massacre of Vietnamese civilians in 1968 by US troops. At the time, many people could not believe that US troops were capable of such a war crime, and the telling of this story shifted public attitudes to become far more cynical of government claims. Since then, Hersh has built a formidable reputation for bringing detailed and frightening stories of abuse of power to the attention of the public, including ones detailing how US troops were abusing prisoners in Abu Ghraib prison in Iraq, and how the Bush-Cheney administration gave itself the illegal powers to order US special forces to go and kill people they wanted dead.

Speaking to the assembled journalists, Hersh reminded them that no one likes a good reporter, since by definition the good investigative reporters will always be working to embarrass someone. As Hersh graphically put it, "We are like the dead rat that someone brings to the party. No one wants to talk to you". He went on to make clear that no reporter can do his or her job properly unless he or she really understands the subject. His best advice to any reporter was to "read, read, read".

Going back to the My Lai story, Hersh made clear how important the reporter's duty is to his or her readers. He spoke of how he found the home of the soldier who eventually confirmed the story on the record. It was in a poor, white farming area, where uneducated and narrow-minded people had worked hard to subsist, and were beaten down by circumstances. He described the soldier's mother, a woman who looked much older than her age, who said of the US military, "I sent them a good boy, and they sent me back a murderer". As Hersh said, such truth coming from such an unexpected source, made it clear how important it was to tell the story.

Hersh's insistence on the importance of the story, the argument between Al Jazeera and Al Arabiya on their different styles of covering the Gaza War (both channels sent staff to bring back the story), and the talks given by many other speakers over the two days, come together in one resounding conclusion: media without original content are not going to gain respect, and therefore deserve to fail.

Dari Al Islam - Menyambung Dot Dot Dot

Hanya mengetahui yang cerpen ini disiarkan dalam Al Islam keluaran Mei tahun lalu (2008) semalam sewaktu meng'google'.....tidak pasti dibayar atau tidak...hmm

Menyambung Dot Dot Dot

Oleh : Fudzail


AL Islam - Mei 2008
(Satu)

Musim dingin telah sampai ke penghujung. Masih kesejukan dalam salji lebat di New York. Tiada apa yang menarik di kota dunia yang tidak pernah tidur. Berita mengenai amaran dan tahap pemanasan global pun tidak begitu sensasi di tengah kemeriahan menjelang Super Bowl.
Fikiran masih saja pada berita yang baru diterima. Suara serak Abang melintas benua, menerojah ke satelit dan turun ke merata pencawang di bumi sebelum bergema di Times Square. Mulanya saya menyangka dia mahu mengucapkan Selamat Tahun Baru. Setiap tahun dia tidak pernah lupa.
“Abang disahkan mengidap kanser. Tahap serius!”
Sebagaimana Menara Berkembar Pusat Perdagangan Dunia yang telah lama hilang dari pandangan, begitulah kekosongan yang terasa. Bersama debaran kecemasan menyebabkan wajah Abang bagai terpampang di serata papan iklan.
Wajah yang menyambar kerinduan pada seribu ruang yang sentiasa dinamik, bergerak, berkembang dan berubah. Memanjangkan musim dalam berkejaran ke setiap arah. Lantas menjadi segunung budi yang menemani setiap langkah perjalanan.

Dan wajah itu melontar lagu kegemaran kami, “He Ain’t Heavy, He’s My Brother’.


Gemersik suara kumpulan Hollies yang tiba-tiba menyelinap dan menusuk hati.
Saya segera menghabiskan mesyuarat dengan para perwakilan dari sebuah kumpulan pelabur, dari nama keluarga, kesemua mereka adalah Yahudi. Tidak pasti sama ada penganut zionisme yang dikatakan memerintah dunia melalui proksi. Yang membunuh rakyat Palestin tanpa kemanusiaan. Yang bermaharajalela di Timur Tengah sebagai teroris.
Dalam realiti semasa, tiada siapa dapat menolak pengaruh Yahudi dalam ekonomi, media, hiburan, teknologi dan pelbagai bisnes. Bangsa Bani Israel itu telah mencipta wang untuk menguasai ekonomi dan wang adalah paksi kehidupan global yang materialistik.
Perbincangan kami itu masih dalam peringkat awal, untuk mengenalpasti keperluan. Selepas bersalaman dan berjanji untuk kembali, saya menelefon isteri yang sedang nyenyak tidur.
“Akan terbang dalam empat jam lagi, sampai Dubai terus terbang segera ke KL, melawat Abang. Suruh anak-anak bersiap, tiket telah ditempah!”
Saya membayangkan, Zaharah pastinya mengangguk, faham.
Perbedaan waktu antara New York dan Dubai memberikan sedikit jurang yang diperlukan. Walau waktu sering dirasakan amat suntuk sekali dan tidak pernah mencukupi.


(Dua)
Dalam penerbangan menyeberang Atlantik, sempat membaca himpunan emel. Malas untuk menjawab urusan kerja yang tidak pernah habis. Setiap tahun dengan resolusi untuk memperlahankan langkah, tetapi setiap tahun semakin bertambah urusan. Mengejar objektif syarikat Arab yang melimpah dengan aliran tunai dan semakin gah untuk bersaing diperingkat global.
Badan agak keletihan tetapi fikiran berkecamuk. Debaran menghilangkan rasa mengantuk. Cuba menonton filem tetapi tidak pula menarik minat. Dalam suasana begini, untuk membaca pun tidak dapat untuk konsentrasi.
Sambil mata di skrin kecil TV LCD, mata menjamah kotak emel dan menyusup ke arkib. Tiba-tiba satu emel yang pernah di panjangkan oleh seorang kawan menjadi tersergam. Bersama berita mengenai i-Phone yang dikatakan bakal mencorak dunia teknologi.
“You’ve got to find what you love!”
Emel itu adalah ucaptama Steve Jobs di majlis konvokesyen sebuah kolej dalam tahun 2005. Dikepilkan dengan sebuah kilp video dari laman youtube.com yang menyentap emosi. Steve Jobs, pengasas syarikat komputer Apple adalah seorang yang masih menjadi idola dan ikon. Ketika berucap itu, beliau baru sahaja sembuh dari kanser.
Ucaptamanya itu adalah biografi ringkas hidupnya. Memang menyentuh perasaan dan kewarasan, tentang jatuh bangun seorang usahawan-tekno yang bertaraf dunia. Bermula dari sebuah garaj ke persada teknologi dunia. Tentang melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Tidak mudah mengalah. Kekalahan, kegagalan mungkin membuka jalan lain untuk kejayaan. Nasib buruk tidak semestinya bala. Sentiasa tabah dan istiqamah.
Steve memang sebahagian dari remaja saya. Diperkenalkan ke dunia komputer melalui Apple IIc dan masih saja setia dengan jenama tersebut. Dengan sendirinya bermusuh dengan Microsoft dan Bill Gates.
Seperti Abang Long, Steve (dan Bill Gates juga) tercicir dari universiti dan tidak pernah menjadi graduan. Keduanya menjadi usahawan walau dalam bidang berlainan. Juga melalui turun naik yang mengajar erti perjuangan dan survival.
Kini berkebetulan mereka sama mengidap kanser pankreas. Seperti Steve apabila disahkan mengidap kanser, Abang juga diberi antara tiga hingga enam bulan untuk hidup. Cuma Steve berjaya sembuh selepas pembedahan, tidak menakjubkan dengan teknologi perubatan yang ada. Tentunya kalau mempunyai wang yang cukup.
Begitulah harapan saya buat Abang. Selain harapan agar pada satu hari dia dapat bersama saya dalam satu perjalanan. Perjalanan yang mengubah destinasi rohani.
Satu hari yang entah bila.



(Tiga)


Sebaik tiba di terminal satu Dubai, saya memeluk ke empat-empat anak yang nampak cemas. Melepaskan rindu setelah seminggu berpisah.
Mereka memang rapat dengan Abang yang begitu memanjakan mereka. Setiap cuti musim panas akan terus ke rumah ‘Papa’ dan ‘Papa’ sanggup menghabiskan wang untuk menghiburkan mereka.
Seperti biasa, Zaharah bertanya sama ada saya perlu rehat setelah empat belas jam di udara melintas lautan dan benua. Itu tidak penting bagi saya, tidak sabar untuk terbang ke Kuala Lumpur walau akan memakan masa selama tujuh jam lagi.
Tetapi senyuman seorang isteri sudah cukup memberi ketenangan.
“Papa akan mati ke abah?”
Tiba-tiba pertanyaan dari Abdul Aziz, anak bongsu yang berumur lapan tahun begitu menyentap. Pertanyaan ikhlas yang memerlukan jawaban yang boleh difahami buat seorang anak kecil.
“InsyaAllah, Papa akan sembuh....nanti kita cari ubat untuk Papa!”
Mencelah Aminah, yang berumur lima belas tahun dan nampak matang sebagai kakak sulung. Memeluk Abdul Aziz. Manakala Abdul Razak, tiga belas tahun dan Aishah, sepuluh tahun dalam diam mengesat airmata.
Zaharah pula sempat membeli sebuah buku mengenai kanser. Membaca dengan sepenuh perhatian. Dibelakang buku itu tertera, ‘Setiap orang mempunyai sel kanser dalam badan. Sel kanser ini tidak kelihatan dalam ujian-ujian biasa sehingga berlipat-ganda menjadi bilion dalam saiz. Apabila doktor memberitahu pesakit kanser yang tiada lagi sel kanser dalam tubuh mereka selepas rawatan, ianya bermakna ujian-ujian tersebut gagal mengesan sel kanser sebab sel-sel tersebut masih dalam saiz yang tidak boleh dikesan!”
Satu maklumat yang menakutkan. Begitupun, pertanyaan seorang anak kecil yang prihatin itu terus mengasak perasaan. Baru sahaja bertatih dalam kehidupan dan berita sedemikian boleh saja mengaburi imaginasi dan persepsi.
Kematian adalah kembar kepada kehidupan. Sesuatu yang mesti ditempuhi oleh setiap makhluk. Sesuatu yang selalu dilupakan dalam kesibukan. Seakan musuh dan mahu dihindari.
Apabila usia bertambah, semakin takut pada kematian sedangkan setiap nafas yang dihembus mungkin nafas yang terakhir.
Tentunya Abang tidak bersedia untuk menghadapi kematian. Apalagi saya yang masih terkejar satu impian, satu cita-cita yang masih belum digapai. Belum di tahap salah seorang yang tersenarai sebagai jutawan. Menjadi jutawan sebelum 40 tahun. Dan saya sudah melewati 40 tahun. Barangkali tidak mungkin mencapai cita-cita itu dan harus menerima hakikat untuk bersyukur dengan apa yang ada.
Masa juga semakin menjadi terhad dalam usia yang bertambah walau ruang semakin luas dalam perjalanan. Dan melihat ke wajah-wajah sayu anak-anak yang menggambarkan kebimbangan, saya kembali menjejak masa dan ruang berlalu.

(Empat)

Kami berdua memang lain dari mereka yang lain. Warna kulit yang cerah dengan mata sepet menjadikan bahan ejekan. Dilemparkan dengan pelbagai nama dan cerita yang menghinakan. Prejudis yang lahir dari kedangkalan dan kurang ilmu, selain terperangkap dalam tempurung rendah diri.
Termasuk mereka yang dewasa, yang sepatutnya menjadi pelindung. Kata-kata ejekan memang menyakitkan, tetapi kami belajar untuk menerima setiap penghinaan sebagai cabaran. Menerima hakikat kehidupan tentang perbedaan antara manusia.
Walau apapun, asrama Anak-Anak Yatim sebuah badan kebajikan sukarela itu memberikan kami kehidupan. Tempat berteduh dari hujan dan panas. Tempat membesar sebagai anak-anak merdeka di bumi kelahiran. Biar sekadar memadai, tiada yang lebih baik dari itu setelah ditinggalkan oleh ibu bapa sendiri. Yang sepanjang memori, tidak pernah menjenguk. Tidak juga kami tahu siapa mereka selain maklumat yang tidak lengkap tercatat di surat beranak.
Sehingga satu hari menjelang tahun baru. Abang akan ke sekolah menengah dan akan tinggal di asrama sekolah di bandar. Saya begitu kesedihan, pertama kali kami akan berpisah.
“Ada orang mahu berjumpa kamu berdua!” Sepatah kata dari warden, Puan Carol, mengejutkan. Kami tidak pernah mempunyai pelawat. Kekadang sedih melihat ramai kawan-kawan lain menerima pelawat dan dibawa keluar, terutama di hari perayaan.
Kami berpandangan dengan seribu pertanyaan dalam benak fikiran. Segera dibawa ke ruang tamu asrama.
Seorang wanita tua memakai cheongsam sedang menunggu.


Bread - If A Picture Painted A thousand Words by hiqutipie


(Lima)

Perjalanan ke lapangan terbang Subang terasa hambar. Abang memandu dengan penuh perhatian dalam hujan dan guruh mengiringi satu lagi perpisahan.
“Kau tentu ingat seorang tua yang pernah datang ke asrama!”
“Ya, Nenek!”
Itulah kali pertama dan terakhir kami bertemu dengan Nenek. Salasilah yang masih tergantung. Dia meninggal dunia sebulan kemudian bersama satu pertalian yang tidak pernah bersambung.
“Masa itu kau belum faham tentang apa yang diceritakan Nenek. Warden pun hanya memberitahu sewaktu Abang di Tingkatan lima.”
Fikiran saya menjangkau sebuah kota di England yang bakal ditumpangi sebagai mahasiswa dibiayai biasiswa kerajaan. Tidak menduga apa-apa yang mengejutkan selain kesedihan bercampur kegembiraan.
“Kata Nenek, mendiang Ibu terpaksa berkorban kerana hutang mendiang Datuk kita yang banyak meminjam dari seorang Along. Untuk menampung ketagihan berjudi. Along bertindak ganas dan mengambil Ibu sebagai tebusan. Ibu membunuh diri kerana tidak tahan dengan penderitaan yang ditanggung. Selepas itu Datuk dan Ayah kita pula dikatakan membunuh diri, mungkin dibunuh oleh Along.”
Suara Abang bagai dentuman guruh yang menggegar perasaan. Kilat menyambar pandangan. Sabung menyabung. Cahaya dari kilat mengingatkan saya tentang gambar yang ditinggalkan Nenek, memang kami berdua mewarisi wajah Ibu.
“Kerana tidak mahu kita berdua menjadi mangsa Along, kita ditinggalkan di rumah anak yatim. Segalanya telah ditakdirkan. Nenek pun tidak mampu untuk menjaga kita berdua kerana dia juga tinggal di asrama!”
Abang mengesat airmata. Pertama kali saya melihat dia menangis sambil menyambung.
“Rumah Kebajikan Orang-Orang Tua!”

(Enam)

Bunyi mercun Tahan Baru Cina kedengaran di mana-mana. Meriah sambutan tahun monyet itu, mungkin ekonomi negara sedang memuncak dan ramai orang menjadi kaya raya di pasaran saham. Termasuk abang yang mengusahakan sebuah syarikat kontraktor dan berkembang dengan sektor pembinaan yang pesat. Baru sahaja membeli sebuah kereta Mercedes. Tanda bisnesnya cukup menguntungkan.
Sebaik saya habis menerangkan apa yang dipendam, Abang terus memeluk erat.
“Kalau itu keputusan kamu, Abang tidak membantah. Sebagai seorang sarjana kewangan dan kini bekerja di sebuah bank pelaburan besar, kamu tentunya telah mengambil kira semuanya! Itu semua tidak akan menjadi benteng antara kita, tetap adik beradik!”
Melihat Zaharah bersama, Abang tidak jadi mengajak untuk sama yam seng yang akan bermula. Sambil menghembus asap rokok dia mendekati Zaharah.
“Tahniah dan Selamat Pengantin Baru!”
Zaharah yang mulanya malu-malu ketawa terkekeh apabila mendengar bisikan nakal Abang.
“Bakal suamimu ini sudah berkhatan ke belum?”


(Tujuh)

“Anak-anak kamu nampaknya tidak langsung bercakap Mandarin!”
Saya mengangguk. Memang kesuntukan masa untuk diluangkan ke arah itu. Kesibukan tugas merantai pergerakan. Bernasib baik yang Zaharah turut belajar bahasa Mandarin melalui keset dan saya cuba juga bertutur di rumah dengan anak-anak setiap ada kesempatan.
“Kau tentu tahu yang negara China kini bergerak pantas sebagai gergasi ekonomi. Penting untuk menguasai bahasa Mandarin, sekurang-kurangnya untuk bisnes!”
Bukan maklumat rahsia yang dunia telah dijajah dengan produk buatan China. Malah ekonomi China begitu pesat sehingga menjadi ukuran baru. Kekuatan ekonomi turut membawa kekuatan bahasa. Saya tahu maksud Abang kerana anak-anak kami fasih bertutur bahasa Inggeris dan Melayu, selain sedikit Arab dan Perancis.
Perbualan dengan Abang sewaktu dia singgah di Dubai dua tahun lalu memanjang ke masalah yang melanda bisnesnya. Hutang pelanggan yang tertunggak menjadi hutang lapuk. Manakala hutang syarikatnya dengan bank juga tertunggak. Kitaran tegar.
Saya cuba membantu dengan wang simpanan bekerja sebagai ekspatriat di Timur Tengah. Bolehlah meringankan sedikit bebanan yang ditanggung. Dari Mercedes pakai Kancil.
Seperti biasa, Abang akan menolak. Ego yang masih bertahan dari kecil, pantang untuk menerima bantuan adiknya dalam keadaan apa sekalipun.
“Tidak mengapa, aku belum bankrap lagi...mungkin keadaan ekonomi negara akan pulih dengan Rancangan Malaysia kesembilan. Atau mana tahu ada peluang bisnes di Dubai.”
Abang memang bekerja kuat, sehingga mengabaikan ruang untuk mendirikan rumahtangga. Masih belum berkahwin dalam hujung empatpuluhan. Apabila ditanya, sering berkata, “Mana ada wanita sudi berkongsi hidup dengan kontraktor bujang lapuk dan cabuk ini, mereka pandang status, rumah besar, kad kredit berjela!”
Apabila saya mengingatkan hari-hari terakhir mendiang Nenek yang mati bersendirian di rumah kebajikan orang-orang tua, dia pun berjenaka.
“Nantilah, Abang impot isteri!”

(Lapan)

Saya sudah bersedia dengan tiga kad kredit dan debit platinum sebagai cagaran. Kos pembedahan memang tinggi, Abang tidak mempunyai insuran kesihatan dan saya sanggup untuk menanggung kesemuanya. Bak lirik lagu Hollies, ‘He ain’t heavy, he’s my brother’.
Sebaik tiba di Hospital Universiti dari KLIA selepas subuh, saya berkejaran ke kaunter informasi. Zaharah dan anak-anak sama mengikut saya berlari anak. Berkebetulan pula doktor yang merawat Abang, Dr. Lingam adalah kawan lama di universiti.
Dr. Lingam sedang bercakap sesuatu dengan seorang wanita muda yang sedang menangis. Saya pasti itu Tien, wanita Vietnam yang menjadi isteri Abang. Kakak ipar yang belum dikenali secara fizikal. Mereka baru berkahwin sebulan lalu setelah Abang membuka bisnes baru di Hanoi. Bisnes mengimpot isteri untuk lelaki Malaysia dan Singapura. Dan dirinya pelanggan pertama manakala Tien menjadi Pengurus syarikat.
“Di mana Abang?”
Saya bertanya dengan penuh kekeliruan. Tangisan Tien begitu menyentuh. Kekadang meronta dalam bahasa yang tidak difahami. Seperti yang diberitahu Abang, Tien tidak boleh berbahasa lain selain bahasa Vietnam. Tetapi wajahnya menceritakan sesuatu. Zaharah memeluk, cuba menenangkannya. Anak-anak saya terpinga-pinga. Keadaan nampak kelam kabut. Beberapa staf berlari ke sana sini.
Dr. Lingam terpegun memandang saya, menarik ke satu sudut.
Dia menarik nafas berkali-kali. Menenangkan dirinya sendiri. Begitulah cara beliau sejak mengenalinya di universiti, setiap kali ada kecemasan.
Beberapa minit kemudian, dia menghulurkan satu nota dari seluarnya.
Tulisan dalam bahasa Mandarin itu ringkas. ‘Hui Thian, simpanlah duit kamu untuk masa depan anak-anak, Abang tidak mempunyai masa depan. Selamat Tahun Baru dan selamat menyambung dot dot dot!’
Saya cuba memahami dalam asakan minda yang bersimpang-siur. Dr. Lingam memeluk.
“Dia telah membunuh dirinya, lima belas minit yang lalu!”



- Tamat -